Untaian Kata

Selasa, 19 Desember 2017

Jarak Terjauh

JARAK.
Sepenggal kata yang membuat hubungan ini begitu asik.
Menjadikan setiap pertemuan begitu berarti, setiap gelak tawa layaknya perayaan, setiap sentuh adalah kehangatan.

Benarlah bait lagu tentang kerinduan yang dilantunkan sangat indah oleh penyanyinya: jarak dan waktu tak kan berarti, karena kau akan selalu di hati.

Ya, hati ini dipenuhi olehmu meski tak nampak ragamu.

Sering kali kuupayakan agar kita bisa mendekat. Memperkecil jarak di antara kita..
Kusanggupi menahan lapar untuk membeli selembar tiket menuju tempatmu..
Kutandatangani kesepakatan kerja bertahun-tahun di luar daerah yang dekat dengan kediamanmu..
Tapi itulah lucunya takdir, kau malah berlari menuju tempat asalku..

Ah, tak apa. Asal hatimu masih milikku..

Saat hubungan ini menjadi begitu serius, Tuhan memberikan jalan-jalan terbaiknya..
Kita akan menjadi dekat! Sangat dekat untuk bisa bersua setiap harinya..

Sayangnya hatimu malah menjauh.. Begitu jauhnya sampai menahan laparpun tak akan bisa membuat ku menjangkaumu.. kesepakatan apapun tak akan bisa membantuku menggapaimu..

Saat hatimu sudah tak terlihat lagi, garis hidup bermain-main dengan hatiku. Takdir menjadikan jarak kita hanya sejauh sepetak rumah tipe 21.

Ah, tapi kamu tidak tahu.. karena kamu tidak lagi mau tahu tentangku..

Barulah kini kusadari, jarak terjauh bagi kita bukanlah dimana raga ini berada.. tapi ketika hati ini tak lagi terjaga..

Kamu yang sekarang dekat hatinya dan raganya dengan wanita itu, semoga bahagia di cerita hidupmu pasca denganku..

Dari aku, wanita yang kau tinggalkan dalam perjalanku menujumu.

Gambar terkait

Senin, 18 Desember 2017

Benci

Hariku penuh dengan kebencian akhir-akhir ini..

Aku benci berada di mall, karena denganmu lah aku menghabiskan waktu di mall selama 5 tahun terakhir ini...
Aku benci ide menonton film baru, karena aku tidak tahu dengan siapa aku akan meluapkan semua hujatan atau pujian setelah menontonnya...
Aku benci film horror, yang memang sedari dulu sudah kubenci namun tetap kutonton karena bersamamu..
Aku benci makanan enak, karena kemana lagi kukirimkan foto makanan-makanan itu untuk kuperlihatkan betapa menggiurkannya mereka..
Aku benci makan siang, karena tidak ada yang mengingatkanku untuk tidak melewatkan makan siang dan memuji betapa sehatnya makananku..
Aku benci berenang, karena tidak ada sosok yang menemaniku di ujung sana sambil melatih ototnya dengan alat-alat fitness..
Aku benci soundtrack Maha Go, karena siapa lagi yang akan kuberikan semangat untuk mengendarai mobilnya dengan lagu itu..
Aku benci stasiun kereta api, karena tidak ada yang menungguku atau melepasku disana. Untuk melepas rindu, atau kembali merindu...
Aku benci perfume kesukaanku, karena kau juga menyukainya..
Aku benci semua bajuku, karena setiap helainya mengingatkan momen-momen saat aku bersamamu..
Aku benci kamar kost-ku, karena disanalah dulu kita bersenda gurau meski hanya lewat layar telepon genggam..
Aku benci ruang kantorku, karena tidak ada semangat yang menyertaiku di setiap pagi saat aku akan memulai bekerja.. 
Aku benci Balikpapan..
Aku benci Yogyakarta..
Aku benci Semarang..
Aku benci Kudus..
Aku benci Jakarta..

Namun yang paling ku benci dari semua itu adalah, kenyataan bahwa AKU TIDAK BISA MEMBENCIMU..

Gambar terkait

Jumat, 15 Desember 2017

Menolak Lupa: (Akhir?) Cerita Cinta Kita

Setelah sekian lama alpha melirik blog ini, aku cukup tertegun saat melihat profile-ku. Disitu dulu kutulis dengan bangganya "Pacar kesayangan dan satu-satunya Ahmad Royyan Syah". Ada yang menusuk ulu hati saat membaca kalimat itu. Dari kalimat itu, terlihat begitu angkuhnya aku sebagai manusia, yang saat itu belum kusadari.

Aku lupa tepatnya berapa tahun lalu keangkuhan itu kupublikasikan. Dan kenyataannya, situasi saat ini sudah jauh berbeda.
Masih... Dia masih jadi satu-satunya lelaki yang aku cintai. Tapi aku bukan lagi pacar kesayangannya, bukan lagi wanita satu-satunya, bukan lagi seseorang yang berarti baginya.
Pacar?
Aku bahkan tidak tahu siapa aku baginya sekarang. Tapi jika ditanyakan status, aku ini (masih) tunangannya.

Ya, dia melamarku, setelah hampir 5 tahun kami bersama. Aku tidak memintanya melamarku, dia pun tak bertanya apakah aku bersedia untuk dilamar. Yang terjadi hanyalah ibunya yang bertanya kepada ku kapan keluarganya bisa datang ke rumahku. Berkenalan, sekalian melamar.

Perasaanku? Senang bukan kepalang!
Memang terbersit pertanyaan dalam benakku, mengapa tidak secara langsung dia diskusi denganku. Rautnya pun biasa saja menanti hari itu. Jangan-jangan dia belum yakin? Didesak keluarganya? Ah, kutepis pikiran-pikiran itu. Dia kan memang lelaki yang sulit mengutarakan isi hati. Hiburku.

19 Agustus 2017. Dia dan keluarganya datang ke rumahku. Memintaku kepada Ayahku. Disaksikan keluarga besarku. Aku senang sekali! Berkali-kali aku menyebutnya calon suamiku setelah itu. Dia hanya tersenyum. Tidak ada yang berubah dari dirinya setelah kami bertunangan. Ah, dia kan bukan orang yang ekspresif. Hiburku. Lagi.

Persiapan penikahan mulai kami lakukan. Ku akui, jarak memang menghalangi kami. Kami sepakat akan menikah di Jakarta. Namun aku yang masih bekerja di luar kota jadi sulit mempersiapkan semuanya. Setelah melalui beberapa berdebatan, kami akhirnya memilih At-Tin sebagai tempat akad dan resepsi pernikahan kami yang akan dilaksanakan pada 24 Februari 2018.

Selama menyiapkan pernikahan ini, banyak faktor yang membuat kami sering berselisih paham. Kami lebih sering bertengkar dibandingkan 5 tahun kami bersama.
Sampai akhirnya minggu terakhir Oktober 2017, dia minta pernikahan kami diundur.
Aku pasrah. Percuma aku bertahan jika dia tidak yakin padaku, jika dia tidak yakin mau menikah denganku.
Sempat kutawarkan untuk putus saja, karena dia menuduhku dekat dengan lelaki lain. Namun dia menolak. "Aku mau mempertahankan hubungan kita", katanya waktu itu. Hari itu juga dia ceritakan keputusan kami (yang sebenernya keputusan dia) kepada keluarganya. Banyak nasehat-nasehat dari keluarganya yang diberikan padaku. Aku hanya diam saja, pasrah.

Hari-hari setelah itu kujalani dengan hampa. Belum terpikir olehku bagaimana caranya aku menceritakan kabar ini kepada orang tuaku.

Dia memutuskan untuk umroh pada akhir tahun. Tanpa memberi tahuku. Aku tahu dari tantenya. Hal itu membuat kami bertengkar. Umroh hal yang baik, kenapa dia harus menyembunyikannya dariku? Aku tidak paham jalan pikirannya.

Dua minggu berikutnya kuputuskan untuk pulang. Aku harus membicarakan hal ini kepada orang tuaku. Aku tak tahan setiap hari Ibu menelpon atau chat hanya untuk update persiapan pernikahan dan tetek bengek nya.
Diperjalanan pulang aku berpikir keras mencari-cari cara agar kabar ini tidak terlalu membuat orang tuaku shock.
Namun ternyata akulah yang lebih dahulu dibuatnya shock. Dia tidak bersedia menemaniku menghadapi orang tuaku dengan alasan "takut diusir ayah".
Aku? Kecewa luar biasa!

Aku terpaksa menghadapi Ibu dan Ayah sendirian. Ibu sedih, karena beliau tahu aku sangat terpukul (meskipun sebisa mungkin tidak kutunjukkan). Ayah, lebih rasional dalam menanggapi. Namun aku tahu hal ini memberatkan pikirannya juga.
Satu pertanyaan dari Ibu, yang saat itu belum bisa aku jawab secara langsung. Pernikahan ini diundur, atau dibatalkan?

Pertanyaan yang sama yang ada dalam benakku. Yang karena terlalu membuatku penasaran, akhirnya kutanyakan padanya.
Dan jawabannya berbeda. Dia bilang, "aku juga masih mencari jawaban. Mau lanjut, atau putus sama kamu".
Dulu bukan itu yang dia katakan. Dulu dia bilang mau mempertahankan hubungan kami.
Aku semakin terpukul. Aku semakin tidak mengenalnya.

Dia menemuiku saat aku akan kembali ke perantauan. Di parkiran stasiun, dia menemaniku menunggu jadwal keretaku datang. Kami berbicara, tentang Ayah dan Ibu. Dia menggenggam tanganku (dia tidak pernah begitu). Dia mengelus kepalaku. Dia berkata lembut padaku. Saat aku akan pergi, dia menciumku, memelukku, dan berkata dia cinta padaku.
Itu obat hati yang sangat luar biasa bagiku. Kegundahanku berkurang. Aahh, wanita memang lemah. Aku memang lemah.
Dia berbeda. Dia masih sayang padaku (kukira begitu). Aku kembali, dengan hati yang sedikit terobati.

Kami masih intens berkomunikasi. Meski kusadari, memang tidak selepas dulu.
Dulu dia selalu membalas chatku. Dia bahkan bilang padaku jika dia ingin ke toilet, atau bahkan mencuci baju. Dulu hampir setiap malam dia menelponku. Video call. Tapi setelah kepulanganku itu, dia tidak cepat membalas chatku. Dia tidak pernah menelponku, apalagi video call. Aku sadar, tapi pasrah.

Sampai akhir bulan lalu (November 2017), seorang sahabat SMA-ku melihatnya bersama wanita lain. Aku dikirimkan gambar mesra mereka di suatu tempat makan. Duduk berdua, bercengkrama bahagia. Tangan wanita itu bergelayut mesra di tangannya. Tangan lelakiku. Mereka terlihat serasi, menggunakan sepatu model sama yang bahkan aku tak tahu dia miliki.
Aku hancur. Berkeping-keping. Belum pernah aku menangis seperti itu selama bertahun-tahun.

Malamnya aku menghubunginya. Kubuka dengan percakapan biasa. Lalu kutanya tentang wanita itu. Awalnya dia tidak mau mengaku sampai aku kirimkan foto laknat itu.
Dia hanya berkata "ooh". Dan "hanya teman".
Kami berjanji membahas ini secara langsung, minggu berikutnya. Kuputuskan untuk tidak menghubunginya, untuk memberinya waktu berpikir.

Aku kecewa. Aku gelisah. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Aku rindu.
Ya, bahkan saat aku tahu dia menghianatiku, aku tetap merindukannya.
Aku berusaha berpikir bahwa wanita itu hanya pelampiasannya saja. Saat bertemu nanti, dia akan meminta maaf padaku. Kembali padaku.

Tapi ternyata aku salah. Dia merendahkan ku. Aku seperti dihakimi. Dia mengeluarkan semua hal yang dia tidak suka padaku. Dia menuduhku selingkuh. Dia membela wanita itu. Dan apa yang aku lakukan saat itu? Memohon padanya. Ya, aku gila. Aku tidak normal. Aku terpuruk. Aku merasa ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Dia bilang akan mempertimbangkan aku. Dia mau tetap bersama wanita itu. Aku merasa akulah simpanannya. Akulah perusak hubungannya. Tapi saat itu aku keras hati, aku mau tetap dia jadi lelakiku. Meskipun aku diduakan olehnya.

Dia akan memberi keputusan setelah dia umroh, katanya. Aku berusaha, sekuat tenaga, untuk menarik hatinya lagi. Untuk membuktikan aku cinta padanya.
Sampai akhirnya pada satu titik, aku sadar. Aku sudah tidak berharga lagi baginya. Aku hanya pengganggu di kesehariannya. Pengganggu hubungannya dengan wanita itu. Aku hanya lelucon baginya.

Aku pasrah. Pasrah sebenar-benarnya pasrah. Aku belajar merelakannya. Aku belajar melepaskannya. Aku pelajari kesalahan-kesalahanku selama ini. Aku fokus memperbaiki diri. Aku lepaskan bayang-bayangku darinya. Aku biarkan dia bahagia bersama wanitanya yang sekarang. Kutampar diriku sendiri, untuk menyadarkanku bahwa dia bukan lagi lelakiku.

Belum, dia belum mengeluarkan kata perpisahan.
Tapi aku sudah terlalu hancur untuk berharap.

Aku tidak bisa marah padanya. Aku tidak bisa membencinya meskipun aku sangat ingin. Aku masih sangat cinta padanya. Aku sangat rindu padanya. Tapi aku mau dia bahagia, dengan keputusannya.

Dia bukan lelaki terbaik yang aku kenal, tapi dia adalah cinta terindah di hidupku.

Kuserahkan semuanya, pada Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati.
Aku berharap yang terbaik baginya. Dan jika yang terbaik untuknya bukanlah aku, aku berdo'a agar hatiku cukup kuat untuk menerimanya.

Besok, akan kuceritakan semuanya pada orang tuaku. Aku akan sakit, mereka akan sakit. Tapi kami akan bangkit.

Rabu, 29 April 2015

February, You are Truly the Month of Love!

Februari… Bulan kedua dalam kalender masehi ini memang sering disebut-sebut sebagai bulan yang penuh cinta karena jatuhnya Valentine’s Day di hari ke-empatbelasnya. Valentine sendiri cenderung dikaitkan sama cinta sepasang kekasih. Tapi menurut gw nih, februari kemaren memang bener-bener bulannya cinta buat gw. Kenapa gitu?
Semua tau lah ya, cinta itu gak cuma buat sepasang kekasih aja. Ada cinta buat orang tua, kakak, adik, sahabat, teman, dan lain-lain. Cinta… Kalau mau dibahas di sini tentang apa itu cinta, gak bakal kelar dan gak ada ujungnya. Gak akan ada jawaban absolute tentang cinta.
Dalam KBBI pun *googling KBBI*, cinta dapat diartikan *still loading dude*.. errrrr sebagai… (muncul tulisan ‘this webpage is not available’)…

(tampilan google chrome pas mau search KBBI)


oke oke lupakan KBBI!
Kalau menurut gw pribadi (agree or not), cinta itu kebahagiaan hati dan pikiran.
Dan februari tahun ini, gw bener-bener merasakan kebahagiaan buat hati dan pikiran gw, kebahagiaan yang gw dapet dari alam dan teman-teman yang super. Jadi cinta yang gw rasakan kali ini gak ada hubungannya sama sekali dengan valentine (dan sebagai seorang muslim gw juga gak merayakan Valentine's Day).
Postingan ini sebenarnya hanya sebuah pengantar untuk 2 tulisan selanjutnya yang akan bercerita tentang pengalaman cinta gw di bulan februari 2015.
  1. ThreeP : Ijen, Baluran, Menjangan (20-22 Februari 2015)
  2. Senandung Lagu di Merbabu (28-30 Februari 2015)
Berhubung gw gak pinter-pinter amat dalam menggarap tulisan, pasti bakal butuh waktu lama buat gw menyelesaikan dua tulisan di atas. Semoga aja sampai saat itu tiba, kita masih ada di abad 21. AAMIIN!!

So see you soon, Guys!
*sok banyak pembaca*

Jumat, 19 Desember 2014

Mengenang Kamu, yang Aku Sebut 'Steve'

by: Lusyana

Aku masih ingat semua detil dan bahagianya semua bagian yang menorehkan senyum diwajahku...
Dan aku tersenyum mengenangnya...
Mengenangmu...

Aku tidak ingat semua detil dan sakitnya semua bagian yang menorehkan air mata sedih di wajahku..
Yang kuingat hanya; saat itu sesak..
Dan begitu banyak air mata..
Dan aku tersenyum mengenangnya..
Mengenangmu..

Aku...
Sudahlah,
Toh sudah usah juga kisahku dengan kamu...

Terima kasih kamu
Terima kasih aku
Terima kasih Tuhan

(source: fos-community.com)

Jumat, 26 September 2014

Hey Love, Tomorrow is Our Day




Dear God,

Thank You for bring him to my life..
In this 2 years,
Slow but sure, we've grown up and be a better person than before..
Day after day, we know how to care each other with our heart..

Please God, I beg You to always blessing him. wherever he is, whenever he is, whatever he does..
Because my Lord, I love this guy so much...
And I hope he'll always be my soul mate, both in this world and in Your heaven..

Aamiin.

Kamis, 25 September 2014

Pull-System, Just-in-Time, dan ERP

Buat Temen-temen yang kuliah di jurusan Teknik Industri mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah pull-system dan just-in-time, bahkan ERP (kalau yang ini Temen-temen dari Teknik Informatika pasti lebih paham). 

Just-in-Time dan ERP sebelumnya pernah gw bahas post tepat 2 tahun yang lalu (iya, benar-benar tepat 2 tahun yang lalu. Kalau gak percaya bisa baca disini). Waktu gw baca-baca dan lihat tanggalnya, ternyata sama banget sama tanggal hari ini. Dan kebetulan 3 hal ini sedang sangat berkaitan dengan pekerjaan gw sekarang. Jadi kalau 2 tahun lalu gw nge-post karena tugas kuliah dan tidak terlalu mengerti tentang yang gw post (maklum copas :D), maka sekarang gw akan share tentang hal yang gw alami dan berkaitan tentang 3 istilah di atas. Untuk memudahkan pemahaman, lingkup bahasan akan gw batasi pada industri manufaktur dulu ya.

Pull-system adalah suatu konsep yang berkebalikan dengan push-system (yaiyalah). Pull-system atau sistem tarik hanya menyediakan dan memproses komponen/material sebanyak yang diperlukan saat itu oleh proses selanjutnya (ini yang disebut just-in-time). Bagaimana bisa tahu jumlah kebutuhan proses selanjutnya? Tentunya proses selanjutnya memberikan informasi terlebih dahulu kepada supplier (penyedia) tentang jumlah yang dibutuhkan. Istilahnya lo minta baru gw kasih. Informasi bisa diberikan lewat berbagai cara. Pada saat ide pull-system ini baru tercetus, informasi disalurkan melalui kartu informasi atau dalam bahasa Jepang disebut Kanban. Nah kalau yang ini juga pernah dengar kan? 

Kanban atau kartu ini berisikan informasi yang jelas dan lengkap tentang material yang dibutuhkan (dari, untuk, dengan ucapan, jenis material, jumlah material dll). Jadi ketika proses selanjutnya memberikan Kanban ini, barulah material di-loading sesuai informasi yang ada pada kartu.


Bingung? Pasti. Makanya gw kasih gambar di bawah.


(Contoh Pull-System)

Begini penjelasannya:
  1. Gudang Barang Jadi (GBJ) akan mendapatkan informasi mengenai jumlah order dari bagian Sales. Untuk mendapatkan barang yang akan dikirim untuk memenuhi order itu, GBJ tentunya meminta barang tersebut dari bagian Produksi di proses terakhir (Proses 3) melalui Kanban
  2. Setelah menerima Kanban dari GBJ, Proses 3 mulai memproduksi sesuai dengan jumlah barang yang diminta.
  3. Untuk menjaga persediaan stock (WIP), Proses 3 meminta barang setengah jadi dari Proses 2 sebanyak yang dibutuhkan. Mengapa perlu menjaga persediaan? Karena persediaan di Proses 3 sudah berkurang sebelumnya. Dan jika GBJ meminta barang lagi, Proses 3 tidak akan bisa memenuhi permintaan tersebut karena WIP-nya tidak ada. Hal ini biasa disebut backlog. Namun perlu diperhatikan level stock yang ada disetiap proses. Karena konsep Pull-System pada dasarnya mengarah ke zero inventory. Sehingga level stock yang ada tidak boleh berlebihan, namun cukup saat dibutuhkan. 
  4. Proses 2 memproduksi sesuai dengan yang diminta oleh Proses 3 dan me-loadingnya.
  5. Sama dengan no.3
  6. Sama dengan no.4
  7. Proses 1 meminta material/bahan mentah melalui Kanban ke Gudang Barang Baku (GBB) sebanyak yang dibutuhkan.
  8. GBB memberikan material yang dibutuhkan Proses 1.

Kok kayaknya ribet banget ya? Kalau push-system kan lebih sederhana tuh. Liat planning dari PPIC, terus GBB kirim deh material sebanyak yang ada di planning. Produksi tinggal proses sebanyak yang di-loading GBB, terus semua hasil produksi disimpan di GBJ. Simple kan? Iya simple memang, tapi kebayang gak sih WIP yang menumpuk di setiap proses? 

Seperti yang sudah gw ulas sedikit, konsep Pull-System ini mengarah ke zero inventory. Jadi WIP di setiap proses levelnya cukup untuk kebutuhan saat itu, tidak boleh lebih. Kalau bisa 0 WIP di setiap proses. Jadi minta material/barangnya sedikit-sedikit. Misal ada order 20.000 dengan lead time produksi 10 hari. Kalau pada Push-System, GBB akan me-loading material ke Produksi langsung 20.000. Berarti selama 10 hari akan ada 20.000 material menumpuk di Produksi. Berbeda dengan Pull-System yang hanya meminta kebutuhkan material untuk diproduksi selama sehari yaitu sebanyak 2000, bahkan mungkin setengah hari saja. Jadi tidak banyak WIP menumpuk.

Emang kenapa kalau WIP menumpuk?

Para pencetus Pull-System percaya bahwa WIP merupakan sumber dari segala waste (pemborosan). Bayangkan jika WIP menumpuk, material yang ditumpuk-tumpuk banyak dan dalam waktu yang lama akan memiliki kemungkinan defect lebih banyak. Bahkan bisa saja defect tersebut tidak terdeteksi sejak awal yang bisa berakibat pada backlog. WIP sendiri bisa dikatakan sebagai uang yang tidak bergerak. Dari segi cash flow juga tentu akan merugikan perusahaan. Selain itu, biaya inventory juga tidaklah sedikit dan sering kali menjadi issue yang timbul di hampir semua perusahaan.

Jadi, tidak heran kalau Pull-System ini menjadi salah satu tools bagi perusahaan-perusahaan yang mau menerapkan lean manufacturing. Karena Pull-System secara tidak langsung bisa menghilangkan pemborosan-pemborosan (7 waste) yang ada.

Perusahaan-perusahaan besar yang telah lama menerapkan Pull-System seperti AHM tidak hanya menerapkan just-in-time di internal perusahaan saja, namun sudah berkoordinasi dengan supplier-suppliernya untuk menerapkan Pull-System. Kebayang kan gimana penuhnya GBB kalau produksinya cuma minta sedikit-sedikit padahal material yang dikirim supplier masih full quantity. Solusinya ya suppliernya juga mengirim secara parsial.

Jadi AHM memberikan Kanban (Kartu) ke suppliernya gitu? Nah, disinilah peran ERP. Seiring dengan perkembangan teknologi, komunikasi untuk Pull-System berjalan melalui media elektronik. Sistem yang digunakan juga mengalami peningkatan fungsi dari waktu ke waktu. ERP (Enterprise Resource Planning) merupakan sebuah sistem terpadu yang dapat menyampaikan informasi-informasi yang dibutuhkan dari bagian satu ke bagian lainnya dalam suatu perusahaan dan/atau supply chain secara real time

ERP dapat menghubungkan bagian Sales, Produksi, Purchasing, HR, Finance, bahkan Supplier. Sebagai contoh, Sales akan memberikan informasi mengenai jumlah order dari Customer. Dari jumlah order ini akan terlihat jumlah material yang harus dibeli oleh Purchasing dan berapa banyak barang yang harus di buat oleh Produksi. Purchasing juga bisa memberikan informasi kepada Supplier jumlah material yang dipesan. Finance akan menyiapkan jumlah pembayaran yang dibutuhkan untuk memesan material tersebut. HR juga akan tahu jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Kira-kira begitu gambarannya.

Dapat dibayangkan jika just-in-time, pull-system, dan ERP dipadukan dan diaplikasikan dengan baik, maka bukan tidak mungkin lean supply chain akan tercipta. Tentunya tidak mudah mencapai tujuan tersebut, yang terpenting adalah komitmen dari top management dan kemauan dari lini operasi untuk menjalankannya.










Rabu, 24 September 2014

Brand New Day: Mau(nya sih) Aktif Nge-Blog

Duh gw ngerasa gak jelas banget ini judulnya.
OKE Ris jangan ngalor-ngidul, kebiasaan. To the point!

-START-

Yak postingan ini sih (bener gak disebutnya postingan?) intinya tentang gw yang mau memberdayakan blog gw yang pertama dan satu-satunya ini buat menyalurkan bakat ke-tidakbakat-an gw dalam menulis. "PD banget lu Ris gak punya bakat tapi mau nulis?". Iya terus kenapa? Gw gak berharap tulisan gw bakal dibaca sih, toh gw juga gak punya follower haha. Entah kenapa pas kemaren buka-buka blog ini dan baca tulisan gw sendiri (cuma postingan yang tentang diri gw sih, soalnya yang lain tentang tugas kuliah. huft..), gw malah senyam-senyum sendiri :D Yak mudah-mudahan aja dari yang gak punya bakat, jadi timbul benih-benih bakat menulis gw. 

Gw berharap ni blog gak jadi ajang curhat gw kalo lagi berantem sama Pacar (aamiin semoga). Gw maunya blog ini jadi tempat gw menuangkan kreativitas gw yang masih lumayan dangkal (cerpen atau puisi), tempat gw nyeritain petualangan luar biasa yang gw alami, atau tempat gw berbagi pengalaman dan ilmu yang bisa bermanfaat buat orang yang baca (mudah-mudahan ada yang baca). Soalnya sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat #bijak.

Oke seperti yang udah gw ulas-ulis dikit sebelumnya, nih blog emang banyak berisikan tugas-tugas gw kuliah (tadinya). Ya karena gw emang bikin blog ini karena tuntutan tugas sebagai mahasiswa B-)

Sekedar informasi, mohon maaf bila kedepannya dalam blog ini bakal ada ungkapan yang kayaknya kalian gak ngerti. Bukan, itu bukan karena kalian kurang gaul a.k.a cupu atau karena terbatasnya pengetahuan kalian tentang KBBI. Itu tidak lain dan tidak bukan karena salah satu hobi gw adalah membuat kata baru:p Dan arti kata itu bisa berubah sesuai keinginan gw. Cool kan? B-)

Contoh kasus (maaf ya, gw gak suka kalo cuma teori :p)

Pacar: Yang, CV mu mau diprint berapa lembar?
Gw: 5 lembar aja yang.
Pacar: Oke sayang, 25ribu ya.
Gw: Tidak sayang, aku sudah bilang harus GRATIS.
Pacar: Tidak ada yg gratis di dunia ini yang.
Gw: Blekedut kamu yang! 
Pacar: Blekedut artinya apa?
Gw: Blekedut ituuu, artinya mble'e
Pacar: -____-

Dalam hal ini, Blekedut = mble'e = pelit (tuh kan ngerasa gak gaul kan lo?)

Sementara itu pada kesempatan lainnya, Sang Pacar sok-sok nyobain pake kata-kata yang gw karang.

Pacar: Yang, 2 ribuan dong buat parkir.
Gw: Gak mau ah, mahal.
Pacar: Mble'e kamu yang!
Gw: Makasih sayaang <3
Pacar: Lha emang mble'e artinya apa?

Gw: Cantik :)


(Si Pacar pas kesel sama gw)

See? Heran gak sih Si Pacar mau bertahan sama gw sampe 2 tahun minus 3 hari (3 HARI LAGE GW ANNIVERSARY-AN!!)

Oke, balik ke topik #kalem.

Jadi guys, semoga keinginan gw buat jadi blogger sejadi dapat terwujud, dan semoga otak gw yang kayaknya cuma dipake 0,000000000000000000000000001% ini bisa bertambah utilitasnya.

SALAM HANGAT :)

*cheers



Senin, 05 Desember 2011

Business Precess Reengineering (BPR)

Business Process Reengineering (BPR, Rekayasa ulang proses bisnis) adalah pemikiran kembali secara fundamental dan perancangan kembali proses bisnis secara radikal, dihasilkan dari sumber daya organisasi yang tersedia.

BPR menggunakan pendekatan untuk perancangan kembali cara kerja dalam mendukung misi organisasi dan mengurangi biaya. Perancangan ulang dimulai dengan penaksiran level tinggi terhadap misi organisasi, tujuan strategis, dan kebutuhan pelanggan. Kunci utama dalam perancangan ulang adalah pengembangan sistem informasi dan jaringan.

BPR meliputi analisis dan perancangan alur kerja (workflow) dan proses-proses dalam sebuah organisasi. Berdasarkan Daven ports (1990), proses bisnis adalah sekelompok tugas-tugas yang saling berhubungan secara logis, dilaksanakan untuk mencapai sebuah hasil bisnis yang jelas.

Senin, 28 November 2011

Customer Relationship Management (CRM) Ditunjang dengan Information System (IT)

Penelitian telah menghubungkan investasi IT dengan profitabilitas. Lichtenberg (1995) misalnya, mengamati hubungan yang jelas positif antara tingkat investasi IT dan produktivitas multifactor, meski banyak variasi individu dalam keberhasilan perusahaan dengan IT. IT juga menyebabkan penurunan biaya.

Sebagai contoh, menurut sebuah perusahaan asuransi besar Amerika Serikat, 70% dari panggilan masuk adalah dari agen asuransi yang menginginkan informasi tentang pelanggan. Ini adlaah aktivitas yang tidka menghasilkan pendapatan. CRM membantu lembaga jasa untuk menguragi keuangan kegiatan yang tidak menghasilkan pendapatan dengan memungkinkan agen untuk mengakses inforasi pelanggan melalui web, melalui browser. Selanjutnya, pusat biaya dapat diubah menjadi pusat pendapatan.

Sumber: Journal Information Technology and Customer Relationship Management (CRM) in some selected insurance firms in Nigeria

System Analyst

Seorang system analyst di satu sisi diharuskan memiliki keahlian dalam menganalisis proses bisnis (problem domain) untuk dapat menghasilkan sebuah SRS (software Requiremant Spesification) dan di sisi lain menguasai aspek technical dan implementasinya dalam software aplikasi (solution domain) untuk dapat menghasilkan DDD (Detailed Design Document).

Seorang system analyst biasanya berangkat dari seorang programmer yang sudah mahir dan berpengalaman dalam software development. Kemampuannya dalam menangkap requirement dan proses bisnis, ketajaman analisis mengenai celah-celah dalam sistem serta kemampuan merekomendasikan solusi terbaik secara technical sangat diperlukan dalam mengembangkan software yang berkualitas dan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kinerja proses bisnis suatu organisasi.

Sumber: 

Sistem Informasi untuk Competitive Advantage

Dalam lingkup Sistem Informasi, compepetitive advantage  mengacu pada penggunaan informasi untuk mendapatkan pengaruh pasar

Porter berpendapat bahwa perusahaan mencapai competitive advantage dengan menyediakan salah satu dari berikut:
-          Produk dan jasa pada harga yang lebih rendah,
-          Produk dan jasa yang berkualitas lebih tinggi
-          memenuhi kebutuhan khusus pada segmen pasar tertentu

Poin penting yang harus disadari adalah bahwa manajer perusahaan harus menggunakan sumber daya konseptual dan fisik untuk memenuhi tujuan strategis perusahaan

Sumber: Chapter 2-Information System for Competitive Advantage

Enterprice Business Intelligence Maturity (EBIM)

EBIM (Enterprice Business Intelligence Maturity) terdiri dari lima tingkat kematangan dan empat dimensi utama yaitu kualitas informasi, manajemen data, arsitektur pergudangan, dan analisis. Hal ini dapat digunakan untuk membantu perusahaan dalam EBIM dan mengidentifikasikan daerah-daerah kritis untuk mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi.

Baru-baru ini, pasar Business Intelligence (BI) telah mengalami pertumbuhan yang pesat dan teknologi BI telah secara konsisten mendapat perhatian oleh banyak CIO. Menurut Wixom dan Watson (2010), BI adalah sebuah kategori yang luas dari teknologi, aplikasi, dan proses untuk mengumpulkan, menyimpan, mengakses, dan menganalisa data untuk membantu penggunanya dalam membuat keputusan yang lebih baik. Tujuan utama dari aplikasi BI adalah untuk merangkul eksplorasi cerdas, integrasi, agregasi, dan analisis data multidimensi yang berasal dari berbagai sumber informasi.

Sumber: Journal A Maturity Model of Enterprise Business Intelligence

Knowledge Management: Faktor Penting Perekonomian

Pada perekonomian saat ini, pengetahuan tidak lagi hanya menjadi sumber lain dari faktor tradisional produksi (tenaga kerja, modal, dan lahan) namun juga menjadi sumber penting. Selain itu pengetahuan juga meningkatkan jumlah sarjana pada industrial organization, technology management, management strategy, dan organizational theory yang telah memulai untuk mempelajari tentang manajemen pengetahuan.

Knowledge Management berusaha untuk membangun sebuah letak strategi-strategi yang menyediakan definisi, identifikasi, organisasi, dan penyebaran dari pengetahuan sejalan dengan komunitas perusahaan yang juga focus pada pembangunan sebuah kultur penggabungan yang memperkaya dasar pengetahuan dari perusahaan. Sehingga manajemen dan perkembangan dari budaya pengetahuan adalah sangat penting.

Sumber: Journal Budgeting for Knowledge Management in Organizations

Penggunaan Enterprise Resource Planning (ERP)

ERP dikembangkan dengan latar belakang pemikiran perlunya dilakukan aktivitas pengintegrasian proses secara lintas fungsi di dalam perusahaan, agar dapat lebih responsive terhadap berbagai kebutuhan pelanggan atau customer.

Dilibatkannya aplikasi atau software dalam konsep ERP adalah smenaat-mata karena perangkat teknologi tersebut dapat memberikan nilai tambah berupa: penghapusan proses-proses yang tidak perlu, penyederhanaan proses-proses yang rumit atau bertele-tele, penyatuan proses-proses yang redudan, dan pengotomatisasian proses-proses yang manual.

Sumber: PPT Tugas 1 (Enterprise Resource Planning)



Rabu, 09 November 2011

Sensing Journey Report

As a replacement for the mid-term test for System Modeling class, we got an assignment to do a sensing journey. Sensing journey is a way to feel the system through a different perspective. Together with other users of the system, we did a little traveling to different places within the system. We are required to ride the KRL Jabodetabek (Commuter Line) by considering a variety of things that exist from the time we go into the train station then back and forth to the destination.

So, In Tuesday, 1 November 2011, we do the sensing journey, we chose the route UI Depok Station - Jakarta Kota Station. This route is chosen based on the following considerations:  Jakarta Kota station become the representation of densest station, since it is the central station, where trains from the direction of Tanah Abang, Tangerang, Bekasi, Bogor, and out of town layover. Then, UI Depok station is chosen as a departure location, considering the limitation of time that we have, so we find out the nearest station. And at last, the selection of the two stations causing the representation is completed. Jakarta Kota station is the representation of a big and dense station, whereas UI Depok station is representing small station.
This journey started at 12:30 am. We bought tickets with the price Rp. 6,000 for each person. There were two ticket booths, but at that time it was only open one, probably because it wasn’t a rush hour. Then, the commuter line train arrived shortly right after we bought the tickets so we rushed to the train.
When we entered into the platform to waiting for the train, there was  an automatic entrance that is no longer functioning, causing the path to the entrance and the exit of the platform become narrow and unclear. On the platform we barely could see passengers because it was not at rush hour. Also we noticed that on the platform which closer to the exit there are more passengers waiting for the train to come. This was inversely compared to the platform, which further from the exit.
Inside the train

Commuter line train that we ride departs in 13.30. There weren’t many passengers. A few moments after we sat, the conductors checked our tickets. The journey was nice and fun. The train stopped at every station, with longest stop was at Manggarai Station, because Manggarai is one of the big stations with more than one route (Bekasi, Jakarta, Bogor), so there are a very big number of passengers there. Then, near the Jakarta Kota station, a little bit of delay happened, probably it’s because the other train inside the station –usually in peron 11 or 12, common perons used by Jakarta-Bogor route train- didn’t leave the station yet, so our train must stood in the queue. The trip took around 40 minutes. At 1:10 pm we arrived in Jakarta Kota. The weather at the station was very hot and also the station was so crowded. Then, we decided to go for a walk around the platform first to observing the situations in the Jakarta Kota Station.
Jakarta Kota Station

Conditions that are quite different is the amount of the platform that is more than the other stations, such as; it has 12 platforms. Each platform used for specific route and type of train. There are two entrances location in Jakarta Kota Station, the north and south doors. There are five ticket booth located near each entrance. Also, there are two entrances to the station platform, with ticket inspectors standing at each door. Actually, the entrance size is too small when the incoming compared to the amount of passengers especially at rush hour, causing the bottleneck event happened. In fact, sometimes passengers are jostling each other when they are in hurry to take a train that will depart soon.
Platform

In Jakarta Kota station, we also noticed that the train departure and destination information is provided in an convenience amount, either in the form of banners /posters  or even in digital form. Voice information is also provided quite well, meanwhile at some stations such as UI Depok station, the voice sounded unclear and somewhat resonant.
Waiting Room

We weren’t only walk inside the station, but we also went outside the station to see it from the outside, it was very crowded and hectic, lots of kaki lima seller around, lots of angkot stopped in front of the station. It was very uncomfortable and probably not safe.
Then, we bought the ticket to go back to UI Depok station. The queue was not a problem since there weren’t a lot of people buying tickets at the time. After 40 minutes of waiting, we ride the train back to Depok. The condition the train is very different from the previous ride. The train was very crowded, so only 3 of us got a seat. The crowd was increased when the train stops at several stations such as stations Cikini, Manggarai, and Pasar Minggu. Only a few people who got off the train at some stations, most of them are going to Bogor. One small problem on the ride back was that the air was so hot, though there were air conditioners plus fan inside, it makes us a little bit dizzy and uncomfortable. Our return trip took around the same with the time we left which is about 40 minutes. Finally our sensing journey ended at the UI Depok station.
Inside the train in rush hour



Minggu, 16 Oktober 2011

BUSINESS INTELLIGENCE


Business Intelligence Systems atau disebut juga Executive Information Sytems merupakan suatu sistem yang terintegrasi secara online mengirimkan informasi sekarang mengenai kondisi bisnis perusahaan keseluruhan yang dikemas sedemikian rupa hingga mudah di akses dan di mengerti. Informasi tersebut di tujukan kepada para senior executives dan para seluruh manajer, dimaksudkan supaya pengambilan keputusan yang akurat dan cepat dapat dicapai. Data yang diperoleh business intelligence berasal dari data internal dan eksternal. Data Internal merupakan data yang berasal dari proses bisnis perusahaan, misal data transaksi penjualan, data persediaan barang, data penyelesaian produk per tenaga kerja, dan data-data lainnya yang relevan. Data Eksternal merupakan data yang diperoleh dari luar perusahaan. Misalnya data mengenai kebutuhan pelanggan, kemampuan financial pelanggan, dan data pesaing.